Lamunan di jendela
Dia yang temani
Mulailah sang pengarang terbuka
Hanya kertas yang tau isi diri
Ukiran aksara yang dituliskan penuh makna
Ia mewakili tiap-tiap yang mengganjal
Memeluk laksana awan lembut yang menggumpal
Bahkan dalam Nirsuara, tak ingin berkata
Puluhan kata tertulis
Tinta pena habis
Tapi harapan tampak menembus cakrawala
Menyerap ketenangan secepat angin di sana
Menuang perasaan dengan aman
Yang tertahan rahasia dalam sanubari
Menyelam mencari
Masa bersinar yang kini saatnya di depan
Dari suara yang tak kunjung berhenti berebut untuk mengungkap dirinya. Mencoba merasa lebih jujur dengan perasaan. Aksara Nirsuara menjadi perekam jejak penulis yang tertulis dalam bait puisi yang berkesinambungan. Dalam keadaan nirsuara yang mengambil alih keributan melalui aksara.