Sinopsis
Setiap rumah tangga menyimpan ceritanya sendiri. Namun, ketika keretakan perlahan hadir dan dinamika hubungan mulai memasuki ruang “abu-abu”—penuh ketidakpastian, kekecewaan, dan kesunyian—rasa lelah sering kali tak terelakkan. Kalimat “Oalah nasibku...” mungkin pernah terucap di titik paling kelam saat segalanya terasa runtuh.
Buku ini mengurai perjalanan jujur menyusuri lorong-lorong rumit bahtera rumah tangga. Bukan sekadar meratapi luka atau titik terendah kehidupan, Oalah Nasibku hadir sebagai ruang kontemplasi: bagaimana bertahan di tengah hantaman, memahami akar masalah, dan menemukan kembali benih harapan untuk bertunas—menuju arah dan solusi yang lebih terang.